'Benturan' Identitas - Wawancara dengan Samuel Huntington

oleh Samuel Huntington
13 Oktober 2006
Cetak
Email
Cambridge, Massachusetts Selama 13 tahun, dua kata telah mendominasi wacana hubungan kebudayaan, internasional, dan keagamaan terkait dengan kebijakan luar negeri di masa kita, yaitu "Benturan peradaban." Seperti yang dinyatakan oleh Profesor Universitas Harvard Samuel Huntington, frasa tersebut telah menimbulkan perdebatan panas di penjuru dunia, khususnya di kalangan umat muslim. Teori Huntington sering kali ditafsirkan sebagai proklamasi ketidaksesuaian mendasar antara "Barat Kristen" dan "Dunia Muslim". Dampak yang ditimbulkannya pada politik global terkadang sulit untuk dipahami. Majalah Islamica berbincang-bincang dengan Samuel Huntington tentang 'benturan' identitas dan lobi Israel.

Islamica: Saya ingin memulai dengan sebuah pertanyaan umum tentang buku Anda "Benturan Peradaban." Teori Anda tentang benturan peradaban menyatakan bahwa "politik global dewasa ini seharusnya dipahami sebagai hasil dari konflik yang mengakar antara kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama besar dunia." Tesis ini memperoleh momentum pasca 11 September, dan kini perang melawan terorisme sering didefinisikan sebagai pertarungan Barat melawan Islam, sebagai benturan mendasar dari kedua peradaban ini. Apakah Anda merasa bahwa tesis anda telah digunakan dengan tepat dalam menggambarkan perang melawan terorisme sebagai perang antara Barat melawan Islam? Jika tidak, perubahan-perubahan apa dalam penerapan teori Anda yang ingin anda lakukan?

SH: Argumen dalam buku saya tentang benturan peradaban dicerminkan dengan baik dalam kutipan singkat yang mengatakan bahwa hubungan antar negara di dekade mendatang akan mencerminkan komitmen kebudayaan mereka, ikatan kebudayaan mereka, dan permusuhan mereka dengan negara-negara lain. Cukup jelas bahwa kekuasaan akan terus memainkan peran utama dalam politik global seperti yang selama ini selalu terjadi, walaupun biasanya ada sesuatu yang lain. Pada abad ke-18 di Eropa, sebagian besar isu melibatkan masalah seputar monarki atau monarki melawan gerakan republikan yang tengah bangkit, pertama di Amerika dan kemudian di Perancis. Pada Abad 19, bangsa dan rakyat berusaha mendefiniskan nasionalisme mereka dan menciptakan negara yang mencerminkan nasionalisme mereka. Pada abad ke-20, ideologi tampil ke muka, sebagian besar, tetapi tidak eksklusif, sebagai akibat dari Revolusi Rusia dan kita memiliki fasisme, komunisme, dan demokrasi liberal bersaing satu sama lain. Boleh dibilang, semua itu telah berakhir. Dua ideologi (fasisme dan komunisme) memang tidak sepenuhnya hilang tetapi telah tergusur ke tepian, sementara demokrasi liberal telah diterima di seluruh dunia, setidaknya secara teoritik. Jadi pertanyaan sesungguhnya adalah apa yang akan menjadi pusat perhatian politik global dalam dekade-dekade mendatang. Menurut hemat saya, identitas budaya, permusuhan budaya dan berbagai bentuk ikatan lainnya, akan memainkan peranan utama, meski bukan satu-satunya. Berbagai negara akan bekerja sama, dan akan lebih besar kemungkinannya untuk bekerja sama jika mereka memiliki kesamaan budaya, seperti yang diperlihatkan secara dramatis oleh Uni Eropa. Kelompok-kelompok lain sedang bermunculan di Asia Timur dan di Amerika Selatan. Pada dasarnya, seperti yang saya katakan, politik-politik mereka akan menyesuaikan diri berdasarkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan budaya.

Islamica: Jika tesis Anda sepenuhnya menjelaskan hubungan antara negara-negara pasca 11/9, bagaimana Anda menempatkan persekutuan antara Pakistan dan Amerika Serikat melawan Afghanistan misalnya, atau relasi-relasi yang serupa?

SM: Ya, jelas bahwa Pakistan dan AS merupakan dua negara yang sangat berbeda, tetapi kami memiliki kesamaan kepentingan geopolitik untuk mencegah komunis menguasai Afghanistan dan karena itu, mengingat kesediaan Pakistan, meski pemerintahan mereka berada di tangan milier, kami bekerja bersama dalam rangka mendorong kepentingan-kepentingan bersama kami. Tetapi jelas bahwa kami juga berbeda pandangan dengan Pakistan dalam banyak persoalan.

Islamica: Anda mengatakan dalam buku anda, "Selama 45 tahun, Tirai Besi merupakan garis pembatas utama di Eropa. Garis itu telah berpindah beberapa ratus mil ke timur. Sekarang ia memisahkan bangsa-bangsa Kristen Barat, di satu sisi, dari bangsa-bangsa Muslim dan Ortodoks di sisi lain." Beberapa ahli telah menanggapi analisis tersebut dengan menyatakan bahwa pembuatan perbedaan yang begitu tegas antara Barat dan Islam mengesankan adanya keseragaman masif dalam kedua kategori tersebut. Sebagian lain menambahkan bahwa pembagian seperti itu mengesankan bahwa Islam tidak hidup di dunia Barat. Saya memahami bahwa ini merupakan kecaman yang sering Anda terima. Secara umum, bagaimana tanggapan Anda terhadap analisis seperti itu?

SH: Pengertian, yang seperti Anda katakan dipahami sebagian orang, sama sekali salah. Saya tidak mengatakan bahwa Barat bersatu, saya tidak berpendapat demikian. Jelas bahwa ada perbedaan-perbedaan dalam dunia Barat, demikian pula dengan dunia Islam ada sekte-sekte yang berbeda, masyarakat yang berbeda, negara yang berbeda. Jadi tak satupun yang benar-benar seragam. Tetapi mereka memiliki kesamaan-kesamaan. Orang-orang di manapun berbicara tentang Islam dan Barat. Agaknya hal tersebut berhubungan dengan fakta bahwa ini semua adalah pihak-pihak yang memiliki arti dan mereka memang memilikinya. Tentu saja inti dari kenyataan tersebut adalah perbedaan-perbedaan dalam agama.

Islamica: Adakah hal yang merekonsiliasi atau titik temu antara, sebagaimana yang sering digambarkan, kedua sisi "Tirai Besi" ini?

SH: Pertama, Anda menyatakan "kedua sisi", tetapi seperti yang telah saya sampaikan, kedua sisi ini terbagi-bagi, dan negara-negara Barat bekerjasama dengan negara-negara Muslim, atau sebaliknya. Saya pikir itu adalah suatu kesalahan, saya tegaskan, untuk memikirkan dua sisi homogen yang sesungguhnya saling bertentangan. Politik global tetap sangat rumit dan semua negara memiliki kepentingan berbeda-beda, yang juga akan membawa mereka menjalin pertemanan dan persekutuan yang kelihatannya aneh. AS telah dan masih bekerja sama dengan berbagai diktator militer di seluruh dunia. Jelas kita menginginkan mereka melakukan demokratisasi, tetapi kita melakukannya karena kita memiliki kepentingan nasional, entah itu bekerjasama dengan Pakistan mengenai Afghanistan atau apapun.

###

* Samuel Huntington merupakan Profesor Universitas Albert J. Weatherhead III di Universitas Harvard dan penulis berbagai buku terkenal termasuk The Clash of Civilizations and the Remarking of World Order (1996). Artikel lengkap dari artikel ini tersedia di situs web Majalah Islamica di www.islamicamagazine.com. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Islamica Magazine, September 2006, www.islamicamagazine.com
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Jarang sekali kita menemukan sebuah sumber yang memberikan keseimbangan dan mendorong rekonsiliasi, pengertian, and koeksistensi Timur Tengah. Layanan Berita Common Ground menyediakan semua ini secara konsisten. Di atas semua itu, layanan ini memberikan elemen yang tak dapat diukur tapi paling mendasar artinya, harapan bagi masa depan seluruh rakyat Timur Tengah."

- Ziad Asali, presiden American Task Force on Palestine
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Kaum Muda Amerika dan Perang Suci
Tradisi, Ramadhan, dan Paus
Bagaimana Membeli Citra
Membungkam Dialog
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Kaum Muda Amerika dan Perang Suci oleh Kathryn Joyce
Tradisi, Ramadhan, dan Paus oleh Ibrahim N. Abusharif
Bagaimana Membeli Citra oleh Ayman El-Amir
Membungkam Dialog oleh Daniel Barenboim